Jawaban: Makna Pancasila sebagai Ideologi Terbuka. Sebagaimana dijelaskan dalam hasil Seminar Nasional: Aktualisasi Nilai-nilai Pancasila di Era Reformasi ISSN: 2598-6384, dikatakan Pancasila sebagai ideologi terbuka karena memiliki nilai dan cita-cita yang tidak dipaksakan dari luar. SMA.
PancasilaSebagai Ideologi Terbuka - Istilah ideologi berasal dari bahasa Yunani yaitu idein yang memiliki arti melihat. Selanjutnya istilah ideologi ini dalam bahasa Inggris menjadi idea yang memiliki arti gagasan, cita-cita, konsep, serta kata logia yang berarti ajaran. Istilah ideologi adalah ajaran atau ilmu mengenai gagasan dan buah pikiran atau science des ideas.
Pancasilamemiliki persyaratan menjadi ideologi terbuka karena? Bersifat operasional; Hasil pembentukannya merupakan keyakinan ideologis sekelompok orang; Dibutuhkan oleh seluruh warga masyarakat; Berakar pada pandangan hidup bangsa dan falsafah bangsa; Semua jawaban benar; Jawaban: D. Berakar pada pandangan hidup bangsa dan falsafah bangsa
2 Pancasila sebagai Ideologi Bangsa. Maksudnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi cita-cita normatif bagi penyelenggaraan bernegara. Dengan kata lain, visi atau arah penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia adalah terwujudnya kehidupan yang berketuhanan, berkemanusiaan, memiliki persatuan, kerakyatan, dan adil.
MengapaPancasila Dikatakan Sebagai Ideologi Terbuka Pancasila menganut dua jenis ideologi sekaligus. Menyatukan ideologi terbuka dan tertutup. Tentu ada beberapa alasan mengapa kita bisa memandang pancasila sebagai ideologi terbuka. Terutama karena pancasila mengandung nilai-nilai sebagai berikut: 1. Pancasila Memiliki Nilai Dasar
Dịch Vụ Hỗ Trợ Vay Tiền Nhanh 1s. Pancasila memiliki prasyarat menjadi ideologi terbuka karena - Pancasila adalah ideologi nasional Indonesia yang menjadi landasan negara. Sebagai sebuah ideologi, Pancasila memiliki prasyarat untuk menjadi ideologi terbuka yang dapat diadaptasi dan berkembang seiring dengan perubahan zaman. Prasyarat tersebut adalah adanya tiga dimensi penting dalam Pancasila, yaitu dimensi realitas, dimensi idealitas, dan dimensi realitas mengacu pada prinsip-prinsip yang mendasar dan relevan dengan situasi aktual yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Prinsip-prinsip ini harus berdasarkan fakta dan realitas yang ada di masyarakat, sehingga Pancasila dapat menjadi panduan dan solusi bagi permasalahan yang ada di idealitas mengacu pada cita-cita atau tujuan yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia. Pancasila mengandung nilai-nilai luhur yang harus diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai ini mencakup keadilan sosial, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha fleksibilitas mengacu pada kemampuan Pancasila untuk berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan sosial, nilai-nilai Pancasila harus tetap relevan dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pancasila harus mampu memberikan ruang untuk mengakomodasi perubahan sosial, sehingga dapat menjadi ideologi yang dinamis dan tidak adanya tiga dimensi tersebut, Pancasila dapat menjadi ideologi terbuka yang tidak mengikat dan membebaskan bagi masyarakat Indonesia. Pancasila memungkinkan masyarakat Indonesia untuk menerima dan mengembangkan ideologi tersebut sesuai dengan tuntutan zaman dan perubahan sosial yang ada. Oleh karena itu, Pancasila memiliki prasyarat menjadi ideologi terbuka karena mengandung tiga dimensi, yaitu dimensi realitas, dimensi idealitas, dan dimensi konteks globalisasi dan modernisasi yang semakin pesat, Pancasila sebagai ideologi terbuka menjadi semakin penting untuk diimplementasikan. Melalui dimensi realitas, Pancasila dapat memberikan solusi bagi berbagai masalah sosial dan politik yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia saat ini, seperti ketimpangan ekonomi, konflik antar etnis, dan masalah idealitas Pancasila menjadi landasan dalam membangun masyarakat yang adil dan makmur, yang tidak hanya berfokus pada pembangunan ekonomi semata tetapi juga memperhatikan aspek sosial, budaya, dan lingkungan. Nilai-nilai Pancasila yang mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa serta kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dapat menjadi landasan bagi kebijakan dan keputusan yang diambil oleh dimensi fleksibilitas Pancasila memungkinkan nilai-nilai tersebut tetap relevan dan dapat diadaptasi dengan perubahan zaman dan perubahan sosial yang terjadi. Hal ini memungkinkan Pancasila sebagai ideologi terbuka dan dinamis yang dapat beradaptasi dengan perubahan zaman dan kebutuhan era globalisasi, Pancasila sebagai ideologi terbuka perlu terus diperkuat dan diimplementasikan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta memperkuat identitas nasional. Dengan memperkuat Pancasila, diharapkan masyarakat Indonesia dapat bersama-sama membangun negara yang lebih maju, sejahtera, dan khas dari ideologi terbuka adalah kemampuannya untuk mengakomodasi perubahan dan kemajuan zaman serta mampu menerima perbedaan dan kritik secara konstruktif. Ideologi terbuka juga menempatkan hak asasi manusia, pluralisme, dan demokrasi sebagai nilai-nilai utama yang harus dijunjung disebut sebagai dasar negara karena nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dijadikan sebagai pijakan dalam pembentukan dan penyusunan konstitusi Indonesia. Pancasila menjadi dasar hukum dan landasan utama dalam tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di itu, Pancasila juga disebut sebagai ideologi negara karena ia memberikan pandangan hidup dan arah bagi masyarakat Indonesia dalam menjalankan kehidupannya secara sosial, politik, dan budaya. Pancasila memberikan nilai-nilai yang menjadi pedoman bagi kebijakan dan tindakan pemerintah serta masyarakat Indonesia secara umum. Demikian artikel kali ini di motorcomcom jangan lupa simak artikel menarik lainnya disini.
- Beberapa kalangan mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah Pancasila sebagai ideologi terbuka. Pancasila merupakan pilar ideologis Negara Indonesia. Dalam penerapannya, Pancasila menganut ideologi terbuka. Adapun ideologi terbuka merupakan ideologi yang bisa mengikuti atau dapat menyesuaikan perkembangan zaman. Salah satu karakteristik ideologi terbuka adalah hanya berisi pandangan dasar. Sementara itu, pengembangannya disesuaikan dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Nah, biasanya ideologi terbuka hanya bisa digunakan pada sistem Negara yang demokratis, seperti di Indonesia. Lalu, apa sebenarnya arti pancasila sebagai ideologi terbuka? Berikut rangkum ulasan tentang Pancasila sebagai Ideologi Terbuka, mulai dari arti, dimensi, dan nilai-nilainya. Baca Juga Anggota DPR RI Lisda Hendrajoni Mahasiswa Penjaga Kekokohan 4 Pilar Kebangsaan Arti Pancasila sebagai Ideologi Terbuka Pancasila sebagai ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam penerapannya menganut ideologi terbuka. Sebagai ideologi terbuka, Pancasila memiliki sifat dinamis yang mencerminkan keterbukaan pemikiran sehingga mampu menerima segala iklim perubahan yang terjadi. Namun, dalam mencerminkan keterbukaan ini, Pancasila tidak perlu mengubah nilai-nilai dasarnya untuk mengikuti perkembangan zaman tersebut. Dimensi Pancasila sebagai Ideologi Terbuka Pancasila sebagai ideologi terbuka memiliki tiga dimensi penting, yaitu Dimensi realitasPada dimensi realitas, Ideologi mampu untuk menyesuaikan nilai-nilai hidup dan berkembang dalam IdealismePancasila yang memiliki dimensi idealisme merupakan ideologi yang mampu memberikan harapan dan cita-cita masyarakat tentang masa depan yang lebih Pendukung atau PengembanganPancasila sebagai ideologi terbuka dapat mempengaruhi dan menyesuaikan dengan perkembangan Pancasila sebagai Ideologi Terbuka Baca Juga Agar Bisa Bersaing Secara Global, SDM Indonesia Harus Berkarakter Pancasila Pancasila sebagai ideologi terbuka harus mencakup beberapa nilai seperti nilai dasar, nilai instrumental, serta nilai praktis.
Ilustrasi Pancasila sebagai ideologi terbuka isinya tidak langsung operasional maksudnya adalah Foto Mufid Majnun memiliki Pancasila sebagai ideologi terbuka. Pancasila sebagai ideologi terbuka isinya tidak langsung operasional maksudnya adalah tidak terdiri dari tuntutan-tuntutan konkret yang bersifat keras yang wajib ditaati oleh seluruh warga. Simak penjelasannya dalam artikel sebagai Ideologi TerbukaIlustrasi Pancasila sebagai Ideologi Terbuka Foto Bisma Mahendra dalam Pendidikan Kewarganegaraan untuk Kelas XII SMA 2008 menjelaskan Pancasila ditetapkan menjadi dasar negara Indonesia pada 18 Agustus 1945. Tepatnya pada Pembukaan dan Undang-Undang Dasar 1945 disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia PPKI sebagai dasar sila dimusyawarahkan dan dari situ tercapailah sebuah kemufakatan bahwa Pancasila dijadikan sebagai dasar negara Republik Indonesia. Ideologi Pancasila adalah dasar negara yang berfungsi dalam menggambarkan tujuan negara dan dalam proses untuk mencapai tujuan adalah hasil dari refleksi manusia. Ideologi mencerminkan cara berpikir masyarakat sekaligus membentuk masyarakat menuju cita-cita. Ideologi merupakan pilihan yang jelas dan diperlukan komitmen demi pancasila untuk memberikan orientasi ke depan telah menuntut bangsa Indonesia untuk menyadari situasi yang sedang dihadapi. Dalam hal ini adalah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin modern membuat dunia semakin kecil dan interdependensi bangsa-bangsa di dunia semakin tantangan yang ada di era globalisasi ini bisa diatasi oleh bangsa Indonesia jika kita tetap mempertahankan identitas dan terus berkembang agar bisa bersaing dengan bangsa karena itu, Pancasila perlu tampil sebagai ideologi terbuka karena ketertutupan hanya membawa pada kemandegan. Keterbukaan yang dimaksud bukannya mengubah nilai dasar Pancasila, melainkan mengeksplisitkan wawasannya secara lebih konkret agar memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah ideologi terbuka terdapat cita-cita dan nilai-nilai yang sifatnya mendasar dan secara tidak langsung bersifat Ideologi PancasilaBeberapa dimensi yang menunjukkan ciri khas dalam ideologi Pancasila adalahDimensi teologis. Dimensi yang menunjukkan bahwa pembangunan mempunyai tujuan, yaitu mewujudkan cita-cita Proklamasi etis. Dimensi yang menunjukkan bahwa dalam Pancasila, manusia dan martabat manusia mempunyai kedudukan yang sentral,Dimensi integral-integratif. Dimensi yang menempatkan manusia tidak secara individualis, tetapi dalam konteks dimensi-dimensi tersebut, Pancasila sebagai ideologi terbuka bisa terwujud jika hal-hal berikut ini dilaksanakan dengan optimalPerlunya dinamisasi kehidupan masyarakat agar tumbuh mekanisme sosial yang mampu menanggapi permasalah dengan daya inovasi, kreasi, dan demokratisasi masyarakat yang mampu membentuk setiap warga negara menjadi dewasa dan mampu bertindak berdasarkan keputusan dan tanggung jawab terjadi nya fungsionalisasi atau refungsionalisasi lembaga pemerintah dengan lembaga dilaksanakan institusionalisasi nilai-nilai yang membuat seluruh mekanisme masyarakat berjalan dengan wajar dan penjelasan tentang Pancasila sebagai ideologi terbuka yang harus kalian pahami. KRIS
Pancasila sebagai ideologi terbuka merupakan istilah yang sering didengar. Namun, masih ada beberapa orang yang masih asing dan kurang paham dengan istilah terbuka merupakan ideologi yang dapat menyesuaikan dan mengikuti perkembangan zaman. Ideologi terbuka ini biasanya berisi pandangan dasar dan pengembangan yang disesuaikan dengan nilai dan norma yang berlaku di terbuka digunakan pada negara dengan sistem demokratis, seperti negara Maksud Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka?Pancasila sebagai ideologi terbuka karena tidak perlu lagi mengubah nilai-nilai dasarnya untuk mengikuti perkembangan zaman. Artinya, nilai-nilai dasar Pancasila dapat dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman dan kehidupan bangsa itu, untuk menjadi ideologi terbuka, Pancasila mencakup pada tiga hal atau syarat, yaituNilai dasar, merupakan sebuah nilai mendasar yang tetap dan tidak berubah. Terdapat dalam sila kelima instrumen, merupakan nilai dasar yang dijelaskan lebih luas seperti pada UUD praktis, nilai yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat, berbangsa, hingga Sebagai Ideologi Terbuka Secara StrukturalPancasila sebagai ideologi terbuka memiliki tiga dimensi secara struktural, yaituDimensi realitas, nilai mendasar yang mencerminkan realita kehidupan di Idealisme, nilai dasar yang memberikan harapan dan cita-cita pada masyarakatnya untuk kehidupan yang lebih baikDimensi pendukung, mencerminkan kemampuan suatu ideologi untuk menyesuaikan dengan perkembangan Masyarakat dan Pembangunan Sebagai Pendorong Pancasila Ideologi TerbukaPancasila sebagai ideologi terbuka tak lepas dari beberapa faktor pendukungnya, yaitu perkembangan masyarakat dan pembangunannya yang berkembang pesat. Saat ini informasi sudah bisa didapatkan dengan mudah tanpa batas hingga berbagai negara di dunia. Hal ini yang membuat Pancasila diharapkan mampu terbuka menerima hal-hal baik yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut negara. Selain itu, didukung juga dengan perkembangan pembangunan nasional yang berkembang dengan cepat, sehingga Pancasila dituntut untuk menjadi dasar negara yang tidak kaku atau sekarang sudah paham kan? Semoga penjelasan Pancasila sebagai ideologi terbuka di atas dapat bermanfaat ya!
Sumber satu klaim yang cukup menarik seputar Pancasila ialah potensinya untuk menjadi ideologi terbuka. Potensi ini ibarat pisau bermata ganda yang dapat bermanfaat sekaligus mana klaim Pancasila sebagai ideologi terbuka mengimplikasikan bahaya bagi bangsa Indonesia? Jika memang berbahaya, maka apa solusinya?PancasilaHistorisitas atau sejarah perkembangan Pancasila menunjukkan pada kita pro dan kontra seputar beberapa ideologi seperti komunisme dan satu sisi, pemerintahan Sukarno selama kurang-lebih 21 tahun 1945-1966 menunjukkan penerimaan jika bukan dukungan pada Sukarno sendiri memodifikasi pemikirannya seputar nasionalisme, agama, dan marxisme di era kolonialisme Belanda; menjadi nasionalisme, agama, dan komunisme. Kita tahu bahwa komunisme merupakan varian yang lebih spesifik atau tafsir Vladimir Lenin terhadap marxisme sehingga komunisme juga mendapat sebutan sebagai sisi lain, pemerintahan Suharto selama kurang-lebih 32 tahun 1966-1998 justru menunjukkan sikap antipati dan represif bukan hanya pada komunisme sebagai ideologi tetapi juga pada orang yang bersimpati atau sekadar mempelajarinya sebagai wacana akademis atau karya jelas dalam ingatan sebagian orang bagaimana misalnya jantung bergetar dan bulu merinding pada masa Orde Baru ketika membaca salah satu novel dari Pramoedya Ananta Toer yang mendapat stereotyping sebagai seorang amandemen Undang-Undang Dasar sebanyak empat kali dalam rentang empat tahun 1999-2002 membuka pintu dan membuka ruang seluas-luasnya bagi kapitalisme melalui pasal 33 ayat 4 yang secara eufemistik menggunakan istilah “demokrasi ekonomi.”Dengan demikian, Pancasila nampak sangat terbuka dan fleksibel terhadap pelbagai ideologi yang kontradiktif satu sama lain. Padahal, filsafat Pancasila berkaitan erat dengan pemikiran filsuf Yunani antik bernama Aristoteles sebagaimana klaim Profesor berupaya meyakinkan kita bahwa Pancasila dapat kita urai dengan pemikiran Aristoteles ihwal empat kausa materialis, formalis, finalis, dan efisien.Namun, sebagian penafsir Notonagoro justru mengembangkan klaim tersebut secara arbitrer. Contohnya, mereka secara semena menggunakan kausa finalis Aristoteles untuk menjustifikasi bahwa Pancasila sudah UUD hasil amandemen keempat hanya menyatakan dalam pasal 37 ayat 5 bahwa hanya NKRI yang tak dapat kita konsisten pada pemikiran Aristoteles dan menggunakannya untuk mengembangkan diskursus Pancasila; maka kita seharusnya tidak mengesampingkan prinsip non-kontradiksi dalam logika nilai di dalam Pancasila justru terkesan mengabaikan prinsip non-kontradiksi sebagaimana nilai persatuan berseberangan dengan nilai kerakyatan. Maksudnya, permusyawaratan perwakilan dalam sila keempat sangat rentan pada represi dengan dalih ini nampak jelas dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan Maklumat Presiden 23 Juli 2001 yang mana keduanya secara serampangan membubarkan parlemen atau DPR. Bedanya, dekrit Sukarno berhasil membubarkan DPR hasil pemilu 1955 sedangkan maklumat Abdurrahman Wahid presiden sama-sama menggunakan semangat jika bukan argumentasi persatuan untuk membatalkan proses musyawarah melalui perwakilan di nilai di dalam sila keempat dapat meminggirkan nilai persatuan sebagaimana yang nampak dalam pilpres 2014 dan hanya bangsa Indonesia yang mengalami segregasi sosial sebagai akibat mendukung Joko atau Prabowo, tetapi sebagian pasangan suami-istri justru bercerai karena berbeda pilihan calon yang bercerai sepertinya kecewa ketika pada akhirnya mengetahui bahwa Presiden Joko mengangkat Prabowo sebagai Menteri Pertahanan pada paruh kedua saya belum mendengar atau mendapatkan informasi bahwa mereka yang pernah bercerai karena beda pilihan capres juga ikut rujuk sebagai ideologi terbuka sekilas terkesan positif karena seolah adaptif terhadap berbagai ideologi asing yang masuk ke Indonesia. Bahkan, bangsa ini bukan hanya adaptif terhadap ideologi politis tetapi juga agama yang datang dari Timur Tengah, Asia Barat dan Asia istilah terbuka’ juga memberikan kesan negatif karena nampak “murahan” serta gampangan untuk menerima apa yang asing dan baru. Bahkan, istilah Pancasila’ itu sendiri juga kita pinjam dari istilah yang sama yang terdapat di dalam Buddhisme meski Sukarno tidak mengakui hal ini dalam pidatonya pada 1 Juni Pancasila-atau lebih tepatnya keterbukaan rezim penguasa-terhadap berbagai ideologi asing dan baru juga menyisakan potensi negatif seperti pikiran ahistoris yang nampak pada generasi dosen yang turut mengajar mata kuliah Pancasila di universitas, saya merasakan secara langsung bagaimana mahasiswa semester satu atau dua terpapar tafsir Pancasila yang beraroma Orde Baru, monolitik dan pada taraf tertentu ultra-nasionalistik dari guru di sekolah asal satu akibatnya, saya harus membongkar terlebih dahulu alam pikiran Orde Baru yang menghuni pikiran mahasiswa seputar Pancasila. Hal ini tidak mudah karena mahasiswa sudah telanjur bosan dan antipati pada tafsir Pancasila secara monolitik ala Orde yang menarik bagi mahasiswa justru sisi historis dari perkembangan Pancasila mulai dari rapat-rapat BPUPK pada akhir Mei dan Juni 1945 hingga penetapan UUD pada 18 Agustus lebih spesifik, mahasiswa tertarik pada uraian kritis terhadap buku Risalah Sidang terbitan Sekretariat Negara; yang berpotensi bias karena hanya merujuk pada buku Yamin berjudul Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945 jilid pertama tahun Yamin itu menyelipkan salinan naskah pidato Yamin yang ia sendiri tidak pernah menyampaikannya di dalam sidang BPUPK. Dalam naskah itu, Yamin terkesan mendahului Sukarno mengenai isi atau substansi juga tertarik pada ketikan stenografi buatan Ny. TB Simatupang dan Ny. Netty Karundaeng yang hingga tulisan ini saya buat masih belum dapat kita akses di Arsip Nasional. Bahkan, Dr Yudi Latif juga pernah mengaku di dalam sebuah kuliah umum yang terdapat rekamannya di Youtube – mulai menit ke-31 tidak mampu mengaksesnya meski ia ketika itu menjabat sebagai Ketua BPIP Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.Ketikan stenografi ini kemungkinan besar tidak memuat naskah tertulis yang Yamin selipkan belakangan di dalam bukunya. Dugaan ini mendapat dukungan dari fakta bahwa Yamin tidak pernah mengembalikan ketikan stenografi yang ia pinjam dari salah satu kakak-beradik menantu Yamin yang juga seorang putri Solo yang mengembalikan ketikan stenografi itu setelah mengetahui pemerintah Belanda mengembalikan salinan serupa setelah mereka merampasnya pada agresi militer ke Pancasila yang keruh atau kusut seperti ini yang justru atraktif dan menantang bagi mahasiswa generasi Y dan Z. Mereka memiliki berbagai alasan yang salah satu di antaranya ialah gugatan dan kekecewaan terhadap berbagai rezim penguasa yang menggunakan Pancasila hanya sebagai alat ketimbang hal ini terus terjadi, maka Pancasila hanya akan menjadi alat untuk memukul lawan politik sebagaimana yang terjadi pada masa Orde Baru. Kelompok masyarakat yang kritis pada Pancasila serta-merta mendapat label anti-Pancasila, ekstrem kanan atau ekstrem mengupayakan Pancasila sebagai ideologi yang bersifat inklusif, maka terdapat beberapa hal yang perlu kita pemerintah dalam hal ini Arsip Nasional perlu membuka akses seluasnya bagi publik untuk membaca salinan stenografi sidang-sidang BPUPK. Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa pemerintah terbuka pada berbagai elemen yang berkepentingan dengan sejarah pemerintah perlu merangkul berbagai kelompok masyarakat. Jangan lagi keliru mengampanyekan slogan seperti, “Saya Pancasila” yang seolah menantang atau bahkan mengklaim bahwa orang lain tidak bubarkan BPIP yang mengokohkan dominasi jika bukan monopoli tafsir atas Pancasila. Selama pemerintah masih menganggap perlu untuk mengedukasi masyarakat ihwal Pancasila secara monolitik, maka selama itu juga pemerintah menyimpang dari cita-cita Sukarno bahwa Pancasila merupakan hasil penggaliannya dari alam pikiran bangsa karakter dan sifat inklusif dari Pancasila terletak pada kemampuan bangsa ini untuk merangkul berbagai ideologi yang berkembang di pendirian BPIP dan kampanye berlebihan tentang Pancasila hanya mengesankan sifat dan karakter eksklusif karena penguasa menggunakan Pancasila hanya sebagai alat untuk memukul liyan atau lawan satu sisi, Pancasila sebagai ideologi terbuka bersifat berbahaya karena terlalu membuka diri terhadap berbagai ideologi asing dan baru yang terkadang menimbulkan benturan ideologis seperti yang nampak dalam sejarah perkembangan Pancasila di masa sebagai ideologi terbuka juga berbahaya karena memberikan kesempatan terlalu besar untuk rezim penguasa menggunakannya hanya sebagai alat untuk meraih kepentingan kelompok politiknya dengan berbagai kata lain, Pancasila bukan ideologi terbuka karena ia memiliki semacam pakem berupa rangkaian nilai ketuhanan-kemanusiaan-persatuan-kerakyatan-keadilan. Tepat di sini, warga bangsa perlu mengkritisinya Apakah betul kelima nilai tersebut bersifat koheren satu sama lain?Bukankah klaim Pancasila sebagai ideologi terbuka seharusnya juga menerima nilai ketidakmanusiaan, perpecahan, otoritarianisme dan ketidakadilan; agar konsisten dan konsekuen dengan penerimaan terhadap atheisme dan anti-theisme yang bertentangan dengan sila pertama?Di sisi lain, keterbukaan Pancasila sebagai ideologi mengandung unsur positif dalam hal merangkul mereka yang berbeda. Namun, hal ini mensyaratkan rezim penguasa untuk berhenti mendikte tafsir monolitik atas poin usulan di atas kiranya dapat menjadi solusi untuk mengupayakan Pancasila sebagai ideologi yang tidak terbuka tetapi juga tidak ini nampak aneh bagi mereka yang belum sanggup membebaskan pikiran dari cengkeraman prinsip non-kontradiksi Aristoteles; tetapi hal biasa bagi mereka yang terlatih dengan logika modern yang lebih lentur dan luwes.
pancasila memiliki prasyarat menjadi ideologi terbuka karena